Kata "globalisasi" merupakan penghancur 2 unsur yang sangat berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa kita. Padahal 2 unsur ini yang sebenarnya dapat membuat Negara Indonesia menjadi salah satu negara terpandang di dunia mengingat potensi dan sejarah yang kita miliki. Tahukah Anda apakah unsur yang dimaksud itu? Itu adalah..
"ANAK DAN SENI TRADISIONAL"
Sekarang mari kita renungkan semua, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk terbanyak di dunia, dan berbagai macam seni tradisional yang terdapat dari Sabang sampai Merauke. Dan apakah itu tidak bisa kita manfaatkan menjadi suatu kelebihan bagi kita?
Ibarat sebuah perkebunan mangga, dari begitu banyak pohon mangga, kita dapat menghasilkan begitu banyak mangga sebanding dengan jumlah pohon yang ada. Dan pastinya buah setiap pohon ada yang berbuah dengan tidak sempurna dan ada yang berbuah dengan sempurna. Dan apabila kita mengumpulkan semua yang berbuah dengan sempurna dan kita jual, pastinya itu akan menjadi suatu produk unggul dan bernilai sangat tinggi.
Begitu pula dengan anak-anak Indonesia yang terdapat pada seluruh tanah air kita, mereka pasti mempunyai kelebihan, keunggulan dan bakat yang ada pada diri mereka. Sehingga pemerintah harus jelih dan peka terhadap perkembangan yang terdapat pada masyarakatnya sehingga pemerintah dapat menjadi pembantu dan pengasah potensi yang dimiliki anak-anak di Indonesia ini.
Dan seni tradisional yang kita miliki sangat beraneka ragam, dari tari tradisional, seni rupa, seni musik, dll. Tapi kenyataan sekarang semua kesenian tradisional kita perlahan-lahan hilang dan lenyap. Dan kemudian diakui sebagai kesenian tradisional negara tetangga kita. Dan setelah diakui oleh negara lain, barulah kita marah dan memaki-maki negara tersebut. Bukankah kita yang selama ini tidak pernah yang mencemooh kesenian tradisional kita dan lebih bangga dengan budaya-budaya dari luar?
Waktu itu saya sempat berbincang-bincang dengan teman-teman saya yang berasal dari berbagai provinsi se-Indonesia. Perbincangannya sangat menarik, flash back masa SD dan permainan tradisional apa saja yang sering dimainkan pada saat itu, ternyata semua permainan itu sama semua hanya saja berbeda nama saja di setiap daerah. Dari main kejar-kajaran, sembunyi-sembunyian, dari kertas, dari kayu, bola kasti, dan berbagai macam permainan yang dibuat dari barang-barang yang ada di sekitar kami dulu. Dan perbincangan itu membuat kami tertawa lepas dan mau membuat kami mau mengadaan perlombaan permainan tradisional di kampus kami.
Berbeda terbalik dengan keadaan anak-anak sekarang. Ketika saya pulang kampung, saya merasa begitu miris melihat lapangan kecil yang dulu biasanya ramai dengan anak-anak yang bermain-main permainan tradisional sekarang telah sepi dan hanya menjadi lahan kosong yang dipenuhi rumput-rumput liar. Saya berpikir, "dimana anak-anak kecil di kampung saya?" Kemudian saya berjalan lagi dan akhirnya saya menemukan anak-anak kecil yang memenuhi suatu tempat. Tapi 2 tempat yang dipenuhi anak-anak itu adalah...
"Rental Playstation dan Tempat Internet"
Yah, akibat globalisasi banyak alat-alat canggih berupa permainan mulai dari sega, playstation, game online dll. Tapi, ternyata semua itu malah merusak generasi muda kita. Bayangkan saja, biasanya umur anak-anak seperti mereka merupakan fase pertumbuhan. Pada permainan tradisional, pasti anak-anak akan mengeluarkan banyak keringat dan itu bisa termasuk dalam kegiatan olahraga, sehingga bisa memacu pertumbuhan, kelincahan, ketangkasan mereka. Sedangkan permainan modern seperti sekarang ini membuat mereka menjadi terbuai dengan visualisasi yang didapatkan, mereka hanya duduk diam, tanpa mengeluarkan keringat dan membuat mereka menjadi malas bergerak dan pastinya menjadi lupa waktu. Sehingga tidak heran fisik anak-anak zaman sekarang begitu lemah.
Kemudian anak-anak zaman sekarang mempunyai persepsi yang keliru tentang seni tradisional, mereka memandang seni tradisional adalah sesuatu yang kuno, sehingga mereka tidak tertarik untuk melestarikan dan meneruskan ke generasi selanjutnya dan akan punah dimakan oleh budaya-budaya modern yang semakin digemari oleh kaum muda zaman sekarang. Sehingga ketika kita telah kehilangan seni tradisional bangsa kita, hilanglah pula identitas negara kita sebagai negara yang mempunyai beragam suku dan budaya.
Peran pemerintah juga sangat dibutuhkan agar dampak yang terburuk dari semakin hilangnya seni tradisional kita, seharusnya pemerintah menjadi wadah dan harus bisa mengontrol agar seni tradisional tetap dalam jalurnya. Bisa dengan memasukan mata pelajaran kesenian wajib hingga 12 tahun. Mengadakan event-event yang dapat menjadikan kesenian tradisional tidak dipandang rendah lagi. Dan berbagai macam yang dapat dilakukan pemerintah dalam perkembangan anak dan kesenian tradisional.
Kemudian perkembangan pembentukan karakter dalam pembelajaran sangat diperlukan kepada generasi muda kita. Dimana mereka tidak hanya mendapatkan ilmu pembelajaran, mereka juga ditanamkan etika dan moral sehingga mereka nantinya tidak hanya menjadi siswa yang cerdas dan mempunyai budi pekerti yang luhur. Banyak anak bangsa yang cerdas yang terbentuk di negeri ini, tetapi karena merekalah negara kita terpuruk. Berarti kecerdasan bukan menjadi tolak ukur seseorang untuk menjadi agen perubahan yang dapat mengubah negara kita menjadi lebih baik lagi.
Sehingga yang diperlukan sekarang seorang anak bangsa yang mempunyai visi...
"Think Global and Act Local"
Agen penerus bangsa yang mempunyai wawasan yang luas tetapi tetap mempunyai jiwa nasionalisme dan budi perkerti yang baik dengan tetap mencintai dan mewariskan kesenian tradisional negara kita ke generasi selanjutnya.
Terimakasih, semoga artikelnya bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar