Rabu, 18 Juni 2014

Malpraktik Kaum Jurnalis

Pemilihan Presiden yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli mendatang membuat hiruk pikuk tentang siapakah yang pantas menjadi RI 1 di negara ini. Sehingga banyak muncul berbagai macam cara dan upaya yang dilakukan oleh kedua belah pasangan. Dimana seperti yang kita ketahui, KPU telah menetapkan terdapat 2 Calon Pasangan yang akan menjadi Capres dan Cawapres.
Capres-Cawapres No 1. Prabowo-Hatta
Capres-Cawapres No. 2 Jokowi-JK.
Persaingan antara 2 pasang Calon Presiden diwarnai dengan perpecahan antara kaum politisi elite, tokoh keagamaan, artis, purnawirawan bahkan tak jarang kita mendengar berita adanya konflik warga yang terjadi akibat perbedaan pendapat tentang calon presiden yang mereka usung. Berbagai macam isu dan fitnah pun dikeluarkan untuk saling melemahkan suara lawan.
Tapi sayangnya keterlibatan media massa dalam kancah politik mengakibatkan terjadinya malpraktik yang dilakukan para kaum jurnalistik terhadap informasi-informasi yang dikeluarkan melalui media massa. Tidak jarang sering ditemukan penyimpangan informasi yang dilakukan dikarenakan pemilik media massa yang mengusung pasangan tertentu menampilkan isu-isu baik terhadap dukungannya tetapi menampilkan isu-isu negatif terhadap lawannya yang terjadi pada saat ini. Sehingga ketidak berimbangan informasi terjadi pada informasi-informasi yang diberikan media massa dewasa ini.
Menurut R Eep Saefulloh Fatah 
"Media massa merupakan pilar keempat bagi demokrasi (the fourth estate of democracy) dan mempunyai peranan yang penting dalam membangun kepercayaan, kredibilitas, bahkan legitimasi pemerintah"
Sehingga sangat jelas bahwa Media Massa itu harus independen, profesional, tidak ikut berpolitik, dan  melakukan kebebasan pers sebagaimana mestinya dikarenakan peran Media Massa sebagai sumber informasi dan memberikan pengetahuan pada masyarakat luas dan akan mempengaruhi pola pikir masyarakat dan proses demokrasi pada negara itu sendiri.
Menurut pendapat saya, status malpraktik tidak hanya diberikan dalam bidang kesehatan tetapi pada semua bidang dimana malpraktik itu sendiri adalah "abuse power" atau menyalahgunakan kekuasaan/kewenangan. Kewenangan yang telah diberikan kepada kaum jurnalis seharusnya tidak disalahgunakan dengan mengeluarkan isu-isu negatif, fitnah, dan opini-opini yang dapat memecah belah dan merugikan orang banyak. Kaum jurnalis seharusnya menyampaikan yang benar itu benar, yang salah itu salah sebagai media informasi, penambah pengetahuan, pencerahan pemikiran dan sarana pencerdasan bangsa dengan jalan yang benar dan tidak melakukan penyimpangan dengan alasan untuk menarik peminat pembaca, alasan keuangan atau apapun itu.
Pernah saya membaca suatu buku, dimanan buku itu menjelaskan bahwa, pada masa depan apabila Anda mau menguasai suatu negara, yang harus Anda punya adalah kekuatan untuk menguasai dan mengendalikan "Informasi, Pengetahuan dan Teknologi". Dimana ketika peran Media Massa sebagai sumber informasi publik dikuasai dan dimanipulasi maka dengan mudah akan mempengaruhi pengetahuan publik. Sehingga Media Massa sebagai alat pembodohan publik. Dan negara dapat hancur, dan NKRI pun pecah.
Caranya gampang, cukup mengeluarkan pemberitaan negatif tentang pemerintah sehingga timbul ketidak percayaan oleh masyarakat dan menimbulkan gerakan separatis, disintegrasi bangsa, dan berbagai gejolak pada tiap sendi bangsa dan negara kita bubar. Dan apakah itu tujuan kebebasan pers? Apakah itu tujuan demokrasi kita? Kebebasan berpendapat juga harus disertai dengan etika-etika yang ada.
Terlalu banyak pemberitaan negatif, isu negatif bahkan menjurus kepada fitnah kepada kedua Capres dan Cawapres. Ingatlah bahwa mereka adalah Putra Terbaik Bangsa. Salah satu dari mereka akan memimpin Negara ini. Sudah sepatutnya para kaum jurnalis bersikap profesional terhadap tugasnya, para akademisi bersifat kritis terhadap paparan dan statement Capres-Cawapres, menanyakan bagaimana kedepannya bukan menanyakan kebelakang, membantu merumuskan harapan bangsa terhadap mereka bukan menjatuhkan dan menghina mereka, sehingga media massa dapat membantu masyarakat dalam melihat, menetapkan dan menentukan siapakah yang pantas menjadi nahkoda NKRI kedepannya. Dan pada akhirnya pemimpin baru akan selalu disambut dengan suka cita dan ditutupi dengan duka cita (penyesalan). Semua hasil akhir kita harus terima dengan ikhlas, membantu pemimpin dalam mengemban amanatnya dan percaya bahwa yang kita pilih akan membawa perubahan. Bhineka Nara Eka Bhakti!!!

Senin, 15 Juli 2013

Anak Dan Seni Tradisional Untuk Kemajuan Bangsa

Kata "globalisasi" merupakan penghancur 2 unsur yang sangat berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa kita.  Padahal 2 unsur ini yang sebenarnya dapat membuat Negara Indonesia menjadi salah satu negara terpandang di dunia mengingat potensi dan sejarah yang kita miliki. Tahukah Anda apakah unsur yang dimaksud itu? Itu adalah..
"ANAK DAN SENI TRADISIONAL"
Sekarang mari kita renungkan semua, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk terbanyak di dunia, dan berbagai macam seni tradisional yang terdapat dari Sabang sampai Merauke. Dan apakah itu tidak bisa kita manfaatkan menjadi suatu kelebihan bagi kita?
Ibarat sebuah perkebunan mangga, dari begitu banyak pohon mangga, kita dapat menghasilkan begitu banyak mangga sebanding dengan jumlah pohon yang ada. Dan pastinya buah setiap pohon ada yang berbuah dengan tidak  sempurna dan ada yang berbuah dengan sempurna. Dan apabila  kita mengumpulkan semua yang berbuah dengan sempurna dan kita jual, pastinya itu akan menjadi suatu produk unggul dan bernilai sangat tinggi.
Begitu pula dengan anak-anak Indonesia yang terdapat pada seluruh tanah air kita, mereka pasti mempunyai kelebihan, keunggulan dan bakat yang ada pada diri mereka. Sehingga pemerintah harus jelih dan peka terhadap perkembangan yang terdapat pada masyarakatnya sehingga pemerintah dapat menjadi pembantu dan pengasah potensi yang dimiliki anak-anak di Indonesia ini.
Dan seni tradisional yang kita miliki sangat beraneka ragam, dari tari tradisional, seni rupa, seni musik, dll. Tapi kenyataan sekarang semua kesenian tradisional kita perlahan-lahan hilang dan lenyap. Dan kemudian diakui sebagai kesenian tradisional negara tetangga kita. Dan setelah diakui oleh negara lain, barulah kita marah dan memaki-maki negara tersebut. Bukankah kita yang selama ini tidak pernah yang  mencemooh kesenian tradisional kita dan lebih bangga dengan budaya-budaya dari luar?
Waktu itu saya sempat berbincang-bincang dengan teman-teman saya yang berasal dari berbagai provinsi se-Indonesia. Perbincangannya sangat menarik, flash back masa SD dan permainan tradisional apa saja yang sering dimainkan pada saat itu, ternyata semua permainan itu sama semua hanya saja berbeda nama saja di setiap daerah. Dari main kejar-kajaran, sembunyi-sembunyian, dari kertas, dari kayu, bola kasti, dan berbagai macam permainan yang dibuat dari barang-barang yang ada di sekitar kami dulu. Dan perbincangan itu membuat kami tertawa lepas dan mau membuat kami mau mengadaan perlombaan permainan tradisional di kampus kami.
Berbeda terbalik dengan keadaan anak-anak sekarang. Ketika saya pulang kampung, saya merasa begitu miris melihat lapangan kecil yang dulu biasanya ramai dengan anak-anak yang bermain-main permainan tradisional sekarang telah sepi dan hanya menjadi lahan kosong yang dipenuhi rumput-rumput liar. Saya berpikir, "dimana anak-anak kecil di kampung saya?" Kemudian saya berjalan lagi dan akhirnya  saya menemukan anak-anak kecil yang memenuhi suatu tempat. Tapi 2 tempat yang dipenuhi anak-anak itu adalah...
"Rental Playstation dan Tempat Internet"
Yah, akibat globalisasi banyak alat-alat canggih berupa permainan mulai dari sega, playstation, game online dll. Tapi, ternyata semua itu malah merusak generasi muda kita. Bayangkan saja, biasanya umur anak-anak seperti mereka merupakan fase pertumbuhan. Pada permainan tradisional, pasti anak-anak akan mengeluarkan banyak keringat dan itu bisa termasuk dalam kegiatan olahraga, sehingga bisa memacu pertumbuhan, kelincahan, ketangkasan mereka. Sedangkan permainan modern seperti sekarang ini membuat mereka menjadi terbuai dengan visualisasi yang didapatkan, mereka hanya duduk diam, tanpa mengeluarkan keringat dan membuat mereka menjadi malas bergerak dan pastinya menjadi lupa waktu. Sehingga tidak heran fisik anak-anak zaman sekarang begitu lemah.
Kemudian anak-anak zaman sekarang mempunyai persepsi yang keliru tentang seni tradisional, mereka memandang seni tradisional adalah sesuatu yang kuno, sehingga mereka tidak tertarik untuk melestarikan dan meneruskan ke generasi selanjutnya dan akan punah dimakan oleh budaya-budaya modern yang semakin digemari oleh kaum muda zaman sekarang. Sehingga ketika kita telah kehilangan seni tradisional bangsa kita, hilanglah pula identitas negara kita sebagai negara yang mempunyai beragam suku dan budaya.
Peran pemerintah juga sangat dibutuhkan agar dampak yang terburuk dari semakin hilangnya seni tradisional kita, seharusnya pemerintah menjadi wadah dan harus bisa mengontrol agar seni tradisional tetap dalam jalurnya. Bisa dengan memasukan mata pelajaran kesenian wajib hingga 12 tahun. Mengadakan event-event yang dapat menjadikan kesenian tradisional tidak dipandang rendah lagi. Dan berbagai macam yang dapat dilakukan pemerintah dalam perkembangan anak dan kesenian tradisional.
Kemudian perkembangan pembentukan karakter dalam pembelajaran sangat diperlukan kepada generasi muda kita. Dimana mereka tidak hanya mendapatkan ilmu pembelajaran, mereka juga ditanamkan etika dan moral sehingga mereka nantinya tidak hanya menjadi siswa yang cerdas dan mempunyai budi pekerti yang luhur. Banyak anak bangsa yang cerdas yang terbentuk di negeri ini, tetapi karena merekalah negara kita terpuruk. Berarti kecerdasan bukan menjadi tolak ukur seseorang untuk menjadi agen perubahan yang dapat mengubah negara kita menjadi lebih baik lagi.
Sehingga yang diperlukan sekarang seorang anak bangsa yang mempunyai visi...
"Think Global and Act Local"
Agen penerus bangsa yang mempunyai wawasan yang luas tetapi tetap mempunyai jiwa nasionalisme dan budi perkerti yang baik dengan tetap mencintai dan mewariskan kesenian tradisional negara kita ke generasi selanjutnya.
Terimakasih, semoga artikelnya bermanfaat.

Ramadhan Ala Praja

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pada kesempatan ini, saya ingin sedikit menceritakan suka duka beberapa moment kehidupan kami yang merupakan  seorang praja dan perbedaan dengan mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi lainnya.
Kami praja yang hidup dalam lingkungan asrama yang kehidupannya sangat berbeda dengan para mahasiswa yang hidup ngekost dan bisa bebas untuk mengisi ramadhannya. Disini serba diatur, dari bangun tidur sampai tidur lagi dan tidak bisa bebas berekspresi dan mempunyai ruang lingkup hanya sampai gerbang dan pagar kampus.Sedangkan para mahasiswa bisa bebas berekspresi dan ruang lingkupnya sangat luas, seluas bensin yang ada di motor.

Kita mulai dari bangun sahur, kalo mahasiswa, pasti dibangunin pacarnya.
"Halo Sayang, bangunnn... Makan sahur sana... Ntar kalo gak sahur gak kuat puasa hari ini..." 
Tapi kalo di IPDN...
"Bangun!!! Bangun!!! Cepat Bangun!!! Saatnya Makan Sahur, kalo kalian telat tanggung sendiri resikonya!!!" Sambil gedor-gedor pintu kamar dan jendela.
Kalo orang yang sakit jantung dan tidur disini pasti bakal cepet matinya, bayangin aja disini banguninnya aja kayak gitu terus pake alarm dan suara dan posko pengasuhan yang menyuruh bangun seperti orang yang jualan baju di pasar. Jlebbb bener...

Kalo mahasiswa yang udah dibangunin pacar terus tidur lagi pasti ceweknya tahu dan nelpon lagi.
"Halo sayang... pasti tidur lagi ya? Makan sahur cepetan. udah mau imsak nih..."
Tapi kalo di IPDN, kami gak langsung bangun dan malas-malasan setelah dibangunin...
"Byurrrr" Besok berharap cerah dan jemurin kasur.
Kemudian kami praja IPDN pergi ke Menza (ruangan makan) dengan pakaian yang ditentukan untuk melakukan upacara makan sahur yang disana cukup untuk menampung ratusan praja. Pas di menza, pasti baunya aneh-aneh. Mungkin karena gerakan mesti cepat untuk ke menza, terus anak-anak pada gak cuci muka, jadi bau iler semua.
Kemudian persiapan upacara makan sahurnya di IPDN lumayan ribet, mesti duduk siap dulu, bupati dan pejabat praja masuk ke kursinya, bunyiin lonceng, doa baru makan. Jadi gak heran kalo banyak yang ketiduran di menza sebelum makan dan ada yang ketiduran sampai upacara makan selesai...
Dan setelah itu pergi melaksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid yang terdapat dalam kampus. Dan setelah sholat shubuh biasanya kami melakukan SSB  (Semir Setrika Brasso). Dimana doktrin yang tertanam tu adalah...
"Penampilan bukanlah yang utama, tetapi yang pertama kali dilihat."
Sehingga tidak heran kalo semua praja IPDN tu sepatunya bisa dipakai buat berkaca, atributnya menyilaukan mata dan pakaiannya begitu rapi dan listnya begitu tajam ditambah dengan bentuk badan yang atletis menambah gagahnya seorang praja.
Setelah itu melakukan kegiatan mandiri seperti mandi, ngerapiin kamar dll dan persiapan melakukan upacara bendera kalo senin, dan apel pagi kalo hari biasa-biasanya. Kemudian setelah itu kegiatan selanjutnya tergantung kebijakan atasan, dapat berupa kerohanian di masjid, kegiatan pembersihan di wisma, seminar, ataupun free sampai dengan siangnya dikarenakan seluruh perkuliahan di semester ini telah diselesaikan.
Kemudian setelah sholat zuhur dilanjutkan dengan kegiatan pengkaderan GAP(Gita Abdi Praja) atau istilah umumnya dikenal dengan marching band. Kegiatannya lumayan menguras tenaga dimana lari-lari dengan menggunakan sepatu dan pakaian PDL sampai dengan sore harinya. Dan doktrin yang tertanam adalah...
"Puasa jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan tidak mengikuti kegiatan apapun serta memperlambat gerakan kita."
Kemudian sore harinya, mahasiswa melakukaan ngabuburit seperti...
  • JJS (Jalan-jalan Sore) dengan pacar
  • Beli takjilan
  • Nongkrong di alun-alun
  • Ngabisin bensin
  • dll terserah dengan keinginan
Sedangkan kami praja IPDN cuma bisa...
  • Lari sore di lapangan kampus
  • Ngangkat barbel di kamar
  • Nonton di kamar
  • dll yang ruang lingkup sangat terbatas
      
Jadi terkadang, kenaikan BBM tu tidak berpengaruh dengan kami, secara kendaraan yang paling sering kami pakai itu adalah kaki baja kami yang sudah terbukti pernah berjalan kaki sejauh 40an kilo dari kampus ke puncak lawang ketika pembaretan. Sehingga tidak heran kalo praja putri disini mempunyai betis kesebelasan mirip pemaen bola. Kemudian Menza memberikan takjilan berupa es buah/kolak/makanan ringan lainnya ke kamar masing-masing untuk berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kami pergi menuju menza untuk melaksanakan upacara makan malam. Setelah makan malam, kami melaksanakan ibadah sholat isya dan tarawih berjamaah di masjid. Kemudian setelah sholat tarawih kami melaksanakan apel malam den kembali ke asrama masing-masing dan tidur indah.

Begitulah sedikit cerita yang selalu dialami kami selama menjalani Ramadhan di kampus. Dan walaupun demikian, ada kelebihan dari kehidupan praja dibandingkan dengan mahasiswa seperti...
Kalo mahasiswa...
Bangun lebih pagi buat masak atau beli makanan sahur dan kalo males paling makan energen aja buat sahur.
Kalo praja...
Gak susah-susah lagi mikirin makanan buat sahur, karena semuanya sudah disediakan.
Kalo mahasiswa...
Terkadang ibadah bolong-bolong karena sibuk dengan kebebasan yang ada.
Kalo praja...
Insyaallah ibadah rajin, walaupun ada yang terpaksa karena peraturan. Tapi lebih baik dipaksa melakukan kebaikan daripada tidak sama sekali.
Kalo mahasiswa...
Terkadang makan ayam/daging tu cuma di awal bulan, kemudian di akhir bulan makan mie instant atau pun energen.
Kalo praja...
Udah bosen makan ayam/daging. Soalnya tiap hari pasti selalu makan salah satu dari menu itu.
Dll

Dan begitulah menurut pandangan saya perbedaan antara kehidupan mahasiswa dan praja selama Bulan Ramadhan. Karena saya tahu dan pernah menjadi mahasiswa anak kost dan sekarang menjadi seorang praja IPDN